Sudah Sempurnakah Konsep Hidup yang Kita Jalani Selama ini?

Sudah Sempurnakah Konsep Hidup yang Kita Jalani Selama ini?

/Opini/

Pola hidup kita dibentuk seperti apa sekarang ini? Waktu dan tenaga kita dikonversi menjadi uang, dalam bentuk gaji dan juga profit bagi pemilik perusahaan. Lalu kita harus membayar pajak. Perusahaan pun membayar pajak. Kemudian pajak itu digunakan negara untuk membayar hutang plus bunga kepada negara/lembaga pemberi utang, selain untuk kebutuhan rakyat di dalam negeri.

Rakyat harus bekerja setiap hari. Pegawai, buruh, pedagang, petani, nelayan, dan sebagainya bekerja dari pagi hingga sore bahkan malam hari. Padahal secara hakiki sebenarnya manusia tidak lahir dengan keharusan untuk menyerahkan begitu banyak waktunya untuk bekerja.

Tuhan menyediakan segala kebutuhan hidup manusia di Bumi ini. Mulai dari air, udara, tanaman, ternak, ikan, dan sebagainya. Semua itu adalah hal yang bisa diraih sendiri oleh manusia untuk mempertahankan hidupnya.

Tetapi kenyataannya, sistem hidup yang dibuat para manusia pemimpin (dimulai sejak ratusan tahun lalu) sangatlah berbeda dengan idealisme itu. Sistem penyediaan dan distribusi sembilan bahan pokok dikuasai oleh sekelompok orang.

Dan untuk ke depannya, ketika tanah semakin sempit akibat pertambahan populasi, maka lahan pertanian semakin dikuasai segelintir orang. Penangkapan ikan pun dikuasai sekelompok orang. Tidak semua individu diberi kepemilikan atas lahan, sungai, dan laut. Mungkin akan lebih banyak korporasi yang menjadi penguasanya.

Akibatnya, dan sudah terjadi sekarang ini, untuk mendapatkan satu butir bawang putih pun orang harus bekerja keras agar mendapat uang untuk membelinya. Untuk mendapatkan seekor ikan pun orang harus melakukan kerumitan yang sama. Untuk memperoleh sepotong paha ayam pun orang harus bekerja keras, meski sebenarnya sangatlah bisa ia memelihara ayam dan memotongnya sendiri bila menginginkannya.

Para buruh dan pegawai harus bekerja keras 8 sampai 12 jam sehari selama lima sampai enam hari per pekan, hanya untuk mendapatkan beras, lauk pauk, dan bumbu dapur. Padahal sebenarnya mereka bisa mendapatkan itu semua dengan jauh lebih mudah, yakni menanam, menernak, dan memancing/menjala.

Waktu hidup mereka pun tidak perlu dikorbankan sebegitu banyak untuk itu. Mereka bisa memanfaatkan waktu lainnya untuk berolah raga, bermeditasi, beribadah, bercengkerama bersama keluarga, mengeksplorasi ide, bersosialisasi, dan sebagainya. Waktu itulah yang sangat berharga untuk membangun humanisme yang bermutu tinggi.

Namun, fakta yang ada saat ini, mereka hampir tidak punya waktu untuk keluarga dan juga dirinya sendiri. Berangkat pagi pulang sore/malam, badan lelah, olah raga kurang, pola makan kurang sehat, berbagai penyakit pun kemudian mendera.

Untuk berobat perlu biaya mahal. Kartu jaminan kesehatan iurannya pun relatif mahal. Apalagi bila pesertanya seluruh anggota keluarga.

Akhirnya setelah bekerja keras hampir sepanjang waktu hidupnya, dari usia sekolah hingga usia kerja, manusia akan mendapatkan berbagai penyakit. Lalu mati. Bisa mati muda. Bisa pula mati tua.

Orang pun mencari-cari makna dalam hidupnya. Dan karena tidak menemukan makna yang sungguh-sungguh adiluhung, akhirnya mereka menyimpulkan kerja keras selama ini adalah makna hidup sejatinya. Memberi tempat tinggal, makanan, pakaian, dan beberapa kebutuhan sekunder serta tersier kepada keluarga adalah makna hidup yang bisa disimpulkannya.

Tetapi apakah hanya sebegitu fitrah manusia? Apakah makna hidup manusia hanya itu? Apakah tidak terdegradasi dari fitrah yang sebenarnya dan sesuatu hal lain yang mampu dijangkau oleh manusia?

Makna hidup yang seperti itu sangatlah terbatas pada kebendaan belaka. Rumah, mobil, pakaian, makanan, furniture, perhiasan, dan sejenisnya hanyalah wujud benda. Terus terang, kalau mau jujur, semua itu bisa dibikin sendiri oleh semua manusia bila ia punya waktu dan pembelajaran yang cukup.

Mengapa rumah harus ditebus dengan nilai yang mahalnya selangit: ratusan juta bahkan miliaran rupiah, dengan cicilan selama 10 tahun, 15 tahun, 20 tahun yang begitu lama, bahkan nilainya membengkak bisa dua kali lipat dari nilai tunainya? Mengapa orang harus bekerja keras puluhan tahun untuk sebuah rumah sederhana yang ketika cicilannya lunas tembok dan atapnya mulai keropos?

Padahal sebenarnya, bila orang tidak terpaksa menghabiskan waktunya untuk bekerja di kantor atau pabrik selama puluhan tahun, maka ia sebenarnya bisa membangun sendiri rumahnya, dengan hasil yang jauh lebih berkualitas. Plus tanpa perlu kehilangan waktu untuk bersama anak-anak dan keluarganya.

Bila dilihat dengan jernih, sebenarnya konsep seperti transmigrasi sangatlah ideal. Seorang kepala keluarga diberi lahan untuk membangun rumah dan untuk bercocok tanam. Ia bisa memenuhi kebutuhan tempat tinggal, makanan, minuman, lauk pauk, dan pakaian keluarganya, sambil mengatur sendiri waktu kerjanya. Ia bisa memanfaatkan waktunya untuk menjadi manusia dengan humanisme yang bermutu tinggi.

Sayangnya, pola pikir banyak orang telah terbentuk oleh stereotipe. Ya, yang namanya orang itu harus sekolah di tempat formal, lalu ketika dewasa bekerja, menikah, punya anak, dan kemudian menjadi “budak” bagi stereotipe itu hingga puluhan tahun lamanya. Hingga terakhirnya mati.

Mengapa kita tidak berusaha mencari alternatif konsep hidup? Yang lebih bebas, lebih humanis, lebih cendekia, dan lebih berkualitas?

Ada yang bilang bahwa membantu orang lain yang berkesusahan adalah makna hidup yang bermutu tinggi. Hmm, ini kesalahan terbesarnya: adanya orang susah, miskin, penyakitan, dan sebagainya sebenarnya karena terlanjur berkembangnya konsep hidup lama tadi selama ratusan tahun.

Mengapa orang gagal ginjal? Mengapa gagal jantung? Kena kanker, osteoporosis, dan sebagainya? Karena orang tidak punya waktu dan pikiran yang cukup untuk menjaga kesehatannya. Di kantor atau tempat kerja makan seadanya. Belum lagi merokok. Belum lagi kurang olah raga. Belum lagi stress. Dan lain sebagainya.

Mengapa ada orang miskin dan papa? Ya, karena terbatasnya distribusi negara atas sumber daya alam bagi warganya (akibat penguasaan oleh sekelompok orang yang dilindungi negara via hukum yang dibuat oleh elite politik). Ditambah terbatasnya waktu bagi warga negara untuk melakukan eksplorasi ide dan sosialisasi kehidupan yang lebih baik.

Stereotipe itu semakin berakibat fatal bagi humanisme bila waktu dan tenaga orang yang dikonversi jadi uang (disinggung di awal tulisan ini) pajaknya tidak dikelola dengan benar. Dan itulah kenyataannya selama ratusan tahun ini. (*)

M. Hasan
FIB-UI 1991

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *