Sony Susmana: Cara Wanita Mengemudi Jangan Mengikuti Cara Pria

Sony Susmana: Cara Wanita Mengemudi Jangan Mengikuti Cara Pria

Sony Susmana adalah nama yang tidak asing di dunia pelatihan safety driving. Pendiri dan instruktur di lembaga Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) ini telah melatih berbagai pihak, mulai dari perusahaan pertambangan, TNI, Polri, hingga BNN. Untuk menelusuri kiprah serta kisah-kisah serunya, silakan klik Serunya Cerita Sony Susmana, dari Ancaman Diculik, Dibunuh, hingga Pohon Dirobohkan untuk Menghalanginya.

Pria ramah berumur kepala lima yang terlihat masih gagah ini sempat mengungkapkan premis menggelitik: dalam dua hingga tiga tahun ke depan saya prediksi tingkat kecelakaan akan didominasi pengemudi wanita.

Tentu saja pernyataan itu sangat mengejutkan. Sony tidak bermaksud gender bias dalam hal ini. Pengalamannya mengelola SDCI sejak berdiri pada tahun 2007 yang jadi dasar analisisnya.

“Belakangan ini muncul fenomena pengendara wanita yang lebih nekat daripada pria. Padahal kita biasanya beranggapan wanita itu lebih lembut, sopan, halus, dan santai dibanding pria,” ujar Sony dalam obrolan dengan Autoblarr pada 18 Januari 2020.

“Hal ini karena mereka melihat dan belajar dari perilaku pengendara pria di jalan raya. Tapi bedanya pengendara pria kebanyakan punya kemampuan¬†dan keterampilan yang mumpuni dalam menguasai kendaraannya. Sementara pengendara wanita sebaliknya, sehingga ketika bermanuver menyusul, menyalip, (bergerak) zig-zag, dan bahkan berbelok lebih berbahaya dan membahayakan orang lain,” lanjut Sony.

Sony mengajar Paspampres, Kopassus, dan Polri

Sony juga mengungkapkan, berdasarkan pengalamannya mengajar safety driving, wanita lebih ngeyel di dalam pelatihan. “Sebaiknya gaya dan cara mengemudi para wanita disesuaikan dengan kepribadian wanita yang halus, dan enggak usah dipaksakan untuk mengemudi seperti pria,” imbuhnya.

“Salah satu solusi untuk mengurangi angka kecelakaan adalah dengan menegakkan hukum tanpa pandang bulu. Sehingga ada kesadaran dan kepatuhan. Di beberapa negara maju, pengendara yang masuk kategori membahayakan, termasuk tidak punya SIM, bisa dipenjara. Selain itu, kualitas permohonan SIM perlu ditingkatkan. Idealnya urusan SIM di-handle oleh independent department.”

Di akhir kesempatan, Sony mengatakan, “Sejauh saya terjun sebagai konsultan safety driving, 80% pengemudi enggak paham tentang kendaraannya, dan 70% pengemudi enggak paham arti defensive driving, yakni cara mengemudi dengan prilaku yang benar untuk meminimalisir risiko kecelakaan (soft skill).”

“Kalau hal tersebut turun jadi 25% saja, lalu lintas pasti teratur dan tertib, meski pun macet,” tutup Sony.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *