Sistem Hitung Poin Badminton di Sebagian Masyarakat Klasik Modif

Sistem Hitung Poin Badminton di Sebagian Masyarakat Klasik Modif

Koresponden Autoblarr menghadiri sebuah turnamen badminton di kawasan Cianjur, Jawa Barat, dan menemukan sistem penghitungan poin yang memakai sistem lama namun dimodifikasi, yakni 15 angka setiap set, lengkap dengan peraturan pindah bola tanpa bertambah poin. Namun pemenangnya ditentukan berdasarkan siapa yang mencapai angka 30 lebih dulu.

Cara penghitungan poin badminton 15 angka tiap set mengingatkan kita pada zaman Rudy Hartono, Liem Swie King, Hastomo Arbi, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, dan Susi Susanti. Kalangan bulu tangkis menyebutnya sistem klasik.

Sistem klasik dipakai hingga akhir tahun 2001 oleh federasi badminton internasional. Kemudian pada kurun Januari–Agustus 2002 dipakai sistem poin 5×7 dengan pindah bola tanpa poin. Namun, sistem ini hanya bertahan beberapa bulan, sebelum kemudian dikembalikan lagi ke cara hitung klasik hingga bulan Mei 2006. Barulah setelah itu sistem poin badminton di seluruh dunia diganti dengan 3×21 dengan rally poin yang diterapkan federasi badminton internasional hingga sekarang.

Meskipun turnamen internasional memakai sistem rally poin itu, sebagian masyarakat Indonesia, baik di kampung maupun di perumahan, banyak yang menerapkan sistem klasik yang dimodifikasi tersebut (15 angka pindah lapangan, namun pemenangnya adalah yang lebih dulu mencapai angka 30).

Menurut perbincangan koresponden Autoblarr dengan para pemain badminton (bukan profesional) tersebut, sistem hitung 30 dianggap paling pas. Musababnya, cara itu dirasa tidak terlalu singkat (cepat selesai) sekaligus tidak terlalu lama bermainnya.

Bila memakai sistem klasik murni, maka bisa terjadi permainan rubber set yang memakan waktu terlalu lama (hingga 3 set). “Lapangan biasanya cuma satu di perumahan atau di kampung. Kalau mainnya terlalu lama, kasihan yang pada nunggu giliran mau main,” ujar Cece Rahmat, salah seorang penggiat badminton di kawasan kabupaten Cianjur.

Sebaliknya, lanjut Cece, kalau dipakai sistem rally poin maka permainan akan terlalu cepat selesai. “Ncan ngesang,” cetusnya dalam bahasa Sunda, yang dalam bahasa Indonesia berarti ‘belum berkeringat’.

Rupanya, masyarakat Indonesia memang cerdik. Olah raga pun memperhatikan harmoni dalam bersosialisasi dan kegiatan kumpul-kumpul. Sistem poin badminton 30 adalah solusi terbaik. Sejauh pengamatan koresponden Autoblarr, sistem 30 poin ini dijalankan juga di Jakarta, Bogor, Jonggol, Cianjur, dan Bandung. Kalangan pegawai perkantoran di Jakarta pun –yang bermain badminton selepas jam kerja– ikut memakai sistem klasik yang dimodif menjadi 30 poin. Blarr!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *