Sejarah Lapangan Sempur, Karya Arsitektur Lama yang Memihak Rakyat

Sejarah Lapangan Sempur, Karya Arsitektur Lama yang Memihak Rakyat

Memasuki kawasan lapangan Sempur, kita serta merta merasakan nuansa kesegaran alam, meski lapangan ini terletak di pusat kota Bogor. Di tepinya ada sungai Ciliwung yang relatif jernih lengkap dengan bebatuannya. Sedangkan di seberangnya ada Kebun Raya Bogor yang rimbun. Di sisi lapangan Sempur sendiri banyak terdapat pohon besar yang rindang.

Lapangan ini memang sejak awalnya direncanakan sebagai ruang terbuka. Konsepnya dibuat oleh arsitek Thomas Karsten bersamaan dengan dibangunnya Taman Kencana yang ada di dekat lapangan Sempur.

Pengerjaan kedua kawasan untuk kenyamanan publik itu dilakukan sekitar tahun 1927-1930. Karsten mempersiapkan lapangan Sempur sebagai arena untuk berolahraga. Sedangkan Taman Kencana untuk duduk-duduk dan bersantai. Kebanyakan warga di sekitar lapangan Sempur ketika itu adalah prajurit (Belanda) yang harus menjaga kondisi fisik mereka, sehingga ada jalur lari di sekeliling lapangan.

Di masa pemerintahan Bima Arya sebagai walikota Bogor, lapangan Sempur dipercantik. Lintasan larinya dibuat lebih enak dilihat dengan kelir biru, dan terasa enak ketika diinjak karena permukaannya empuk. Serupa dengan lintasan lari berstandar internasional.

Selain itu, tersedia pula lapangan basket serta arena bermain skateboard. Dan yang paling melegakan masyarakat, lapangan Sempur dijaga sejumlah petugas keamanan yang memberi rasa nyaman dan tenang bagi warga.

Bagi yang setelah berolah raga merasa haus atau lapar, di dekat lapangan basket tersedia sejumlah pedagang makanan dan minuman. Boleh dibilang, lapangan Sempur merupakan arena publik yang berkonsep bagus. Lokasi di tengah kota, dinaungi pepohonan rindang, fasilitasnya memadai, dan juga aman.

Tentang Arsitek Sempur, Thomas Karsten

Herman Thomas Karsten (AmsterdamBelanda, 22 April 1884 – Cimahi, 1945) adalah arsitek dan perencana wilayah pemukiman di Hindia Belanda. Ia adalah putra seorang profesor Filsafat dan Wakil Ketua Chancellor (Pembantu Rektor) di Universitas Amsterdam, sedangkan ibunya adalah seorang kelahiran Jawa Tengah.

Gelar arsitek diperolehnya dari Sekolah Tinggi Teknik (Technische Hoogeschool) di Delft, Belanda, dan lulus tahun 1908. Enam tahun kemudian dia berangkat ke Hindia Belanda atas ajakan seniornya, Henri Maclaine Pont, yang memiliki biro arsitektur. Dalam kariernya inilah ia menjadi perencana dan penasihat beberapa proyek bangunan publik di beberapa kota yang kala itu mulai berkembang akibat membaiknya perekonomian, antara lain Batavia (Jakarta), Meester Cornelis (JatinegaraBandungBuitenzorg (Bogor), Semarang (Pasar Johar), Surakarta (Pasar Gede Harjonagoro, dan stasiun Solo Balapan), MalangPurwokertoPalembangPadangMedanBanjarmasin, dan bahkan sampai merancang perumahan murah di bagian barat daya Kota Magelang, yaitu Kwarasan.

Gaya khas Karsten adalah kepeduliannya terhadap lingkungan hidup dan menghargai nilai kemanusiaan. Dia tidak pernah melupakan kepentingan kalangan berpenghasilan rendah, sesuatu yang jarang ditemui pada orang-orang Belanda di masa itu.

Pada tahun 1921 Karsten menikah dengan Soembinah Mangunredjo dan mempunyai empat anak, masing-masing Regina (1924), Simon (1926), Joris (1928), dan Barta (1929). Dia juga bergabung dalam Instituut de Java, sebuah perkumpulan yang peduli terhadap budaya Jawa.

Karsten mengkritik banyak arsitek Belanda sebelumnya yang lebih berkonsep “menaruh Eropa di Jawa”. Bagi Karsten, Jawa adalah Jawa, bukan Belanda. Karsten menganggap kota sebagai suatu organisme hidup yang terus bertumbuh.

Dalam rencana pengembangan kota, Karsten menganggap penting keberadaan taman-taman kota serta ruang terbuka, dua hal yang tampaknya saat ini mulai terabaikan. Akibat filosofi ini muncullah gaya arsitektur ‘Indisch’ yang populer pada masa pra-kemerdekaan.

Sejak tanggal 1 September 1941 Ir. Thomas Karsten diangkat sebagai staf pengajar untuk Planologi di Technische Hoogeschool te Bandoeng (TH Bandung – yang kemudian menjadi Institut Teknologi Bandung – ITB) dengan jabatan lektor luar biasa (buitengewoon lector). Arsitek generasi pertama Indonesia banyak yang merupakan muridnya.

Secara politis, Karsten adalah orang pro-kemerdekaan, suatu sikap yang hanya diambil oleh sebagian kecil kalangan keturunan Eropa (Indo) pada masanya. Malangnya, ia ditangkap oleh tentara pendudukan Jepang pada tahun 1942 sampai ia meninggal di Kamp Interniran Cimahi pada tahun 1945. Cita-citanya untuk meninggal di bumi Indonesia tercapai walau harus dalam situasi yang tragis. (Sumber: wikipedia)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *