Pentas Teater Koma, Cerita Sampah-Sampah Kota yang Mempesona

Pentas Teater Koma, Cerita Sampah-Sampah Kota yang Mempesona

Lakon J.J (je titik je) Sampah-Sampah Kota merupakan produksi ke-159 Teater Koma, yang dipentaskan tanggal 8–17 November 2019, di Graha Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Teater paling produktif, dan salah satu yang tertua di Indonesia ini (berdiri sejak 1977), mulai menyerahkan penyutradaraan kepada Rangga Riantiarno (anak pasangan pendiri Teater Koma: Nano Riantiarno dan Ratna Riantiarno). Inilah lakon perdana yang disutradarai Rangga, aktor yang sudah malang melintang di Teater Koma sejak belia.

Secara keseluruhan, kualitas Teater Koma yang dibangun Nano dan Ratna selama puluhan tahun, bisa dijaga dengan baik oleh Rangga. Penonton tetap setia, bahkan terpukau, dengan pertunjukan berdurasi total sekitar empat jam tersebut.

Yang patut dipuji, selain alur cerita yang membuat penonton betah, adalah tata panggung yang benar-benar mendukung cerita. Dua atau tiga adegan bisa berlangsung paralel di dua panggung yang berbeda, yakni panggung bawah dan atas. Ini menyimbolkan dua dunia yang berbeda: kehidupan orang kelas atas dan orang kelas bawah.

Tata musiknya pun sangat layak diacungi jempol. Selain mendukung cerita, aransemen dan kecocokan musik dengan jenis volal tiap pemain teater pun enak dinikmati sebagai entitas seni tersendiri.

Dan tak ketinggalan, tata busana para pemainnya pun benar-benar menyatu menjadi adonan yang membawa kita ke dalam kehidupan kelas bawah yang digambarkan di dalam lakon.

Bagi Anda penikmat dialog teater, berikut ini beberapa kutipan kalimat yang layak dinikmati, dengan berbagai horison wawasan, prinsip, dan pengalaman kita.

“Pikiran yang sederhana itu berbahaya. Pikiran yang mau mengalah dan menerima nasib apa adanya adalah berbahaya,” ujar para penguasa.

“Nyawamu tiada harganya. Tapi bagi aku, kau sangatlah bernilai,” ujar seorang istri kepada suaminya.

“Hidup begitu sulit. Lumayan bisa mimpi bagus. Apa yang tidak bisa dialami di kehidupan nyata, syukur kalau bisa dialami di dalam mimpi,” ujar seorang istri kepada suaminya yang miskin ketika baru terbangun dari mimpi.

Rangga Riantiarno, sang sutradara, menyapa penonton seusai pentas

Foto: Autoblarr

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *