Pendapat Tokoh Gay Indonesia Dede Oetomo Soal Kasus Reinhard Sinaga

Pendapat Tokoh Gay Indonesia Dede Oetomo Soal Kasus Reinhard Sinaga

Kasus Reinhard Sinaga yang terjadi di Manchester, Inggris menyisakan banyak pertanyaan, meski vonis hukuman seumur hidup telah dijatuhkan kepada pria 36 tahun asal Indonesia tersebut. Salah satu pertanyaannya adalah apakah predikat “monster” pantas disematkan kepada mahasiswa pasca sarjana tersebut? Pertanyaan lainnya adalah mengapa Reinhard mengaku tidak bersalah dan mengatakan tuduhan perkosaan kepada 48 pria itu tidak tepat karena dilakukan atas dasar suka sama suka.

Kami menggali masalah ini bersama Dede Oetomo, 66 tahun, seorang aktivis kemanusiaan. Dede yang lahir di Pasuruan, Jawa Timur, adalah seorang sosiolog, aktivis AIDS, dan aktivis gay di Indonesia. Ia adalah pendiri Gaya Nusantara, yaitu organisasi masyarakat LGBT Indonesia. Pada tahun 1998 ia memperoleh penghargaan Felipa de Souza Award dan pada 2001 Utopia Awards. Pada 2012, Dede juga mencalonkan diri sebagai calon komisioner Komnas HAM namun gagal pada tahap akhir.

Tanya: Oleh pihak berwenang Inggris, apa yang dilakukan Reinhard Sinaga dianggap sebagai serangan seksual bahkan pemerkosaan. Pertanyaannya adalah para pria yang pernah bersama Reinhard di apartemennya tidak ada yang melapor kepada polisi, dan hanya pria terakhir yang melapor dan menjadi kasus hukum, apa pandangan Anda?

Jawab: Bukti-bukti yang diperoleh polisi jelas menunjukkan bahwa Reinhard Sinaga (RS) melakukan perkosaan berkali-kali. Dugaan saya, bukti itu karena video yang dibuatnya sendiri dengan ponselnya. Perkosaan bukan delik aduan, jadi polisi bisa menindak kalaupun tidak ada laporan. Jadi pada dasarnya sudah tepat polisi Manchester dan pengadilan menjalankan proses peradilannya.

Reinhard di dalam pembelaannya di pengadilan mengatakan para pria yang masuk ke apartemennya melakukan interaksi dengannya atas dasar suka sama suka. Apa pandangan Anda?

Mungkin laki-laki yang ikut ke apartemennya itu berbuat demikian dengan kemauan sendiri. Tetapi seks yang tidak merupakan tindak pidana dilakukan dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan. Saya pikir yang memberatkan RS adalah dia memberikan obat bius kepada calon korbannya.

Sebesar apa kemungkinan seorang gay seperti Reinhard menjadi predator bagi gay lainnya?

Sebagian besar gay atau LSL lain tidak akan memaksa pasangan seksnya kalau pasangannya itu tidak mau. Masih banyak orang yang berpikir keliru bahwa hubungan seks itu mengandung relasi kuasa, upaya mengalahkan, dan lainnya. Banyak orang gay dan LSL lain justru menikmati kemesraan, kehangatan, dan sebagainya yang terjadi dalam hubungan seksual, sebelum dan sesudahnya. Problemnya adalah cara berpikir itu.

Pengadilan men-stigma Reinhard sebagai predator. Apakah Anda sepakat dengan sebutan Reihard predator bagi gay lainnya? Bahkan media menyebut Reinhard sebagai monster. Bagaimama tanggapan Anda?

Saya heran juga dengan stigma itu. Bahkan hakim di Manchester ikut-ikutan memakai istilah “iblis” dan sebagainya. Demikian juga media-media di Indonesia. Mungkin perlu diingat bahwa media mainstream masih mewakili hegemoni kekuasaan “baik-baik”. Konon masih susah untuk seorang lesbian, gay, apalagi transgender untuk menjadi pekerja media.

Sebutan itu bisa mencemari citra orang Indonesia lainnya. Apakah Anda sepakat bila kita mengimbau media di Indonesia untuk lebih objektif dalam mengulas kasus Reinhard dan bukan hanya mengikuti framing media Inggris?

Tentu saja. Dulu dalam program HIV tahun 1990-an dikembangkan konsep jurnalisme empati (kalau tidak salah oleh LP3Y, Bang Ashadi Siregar dkk). Saya imbau kawan-kawan media untuk membayangkan kalau RS itu adalah anak atau adik mereka. Peristiwa memang harus dikabarkan, tapi caranya perlu dengan berempati.

Perbuatan perkosaan juga terjadi dalam situasi konflik. Di Timur Tengah perkosaan kepada yang ditaklukkan dilakukan juga kepada sesama laki-laki. Kenapa media tidak menyebut tentara itu “monster?”

Reinhard sedang mengajukan tesis di universitas tempatnya kuliah mengenai interaksi gay Asia Tenggara dengan gay di Manchester. Apakah mungkin ia sebenarnya sedang melakukan riset demi tesisnya, termasuk mendokumentasikan interaksinya dengan gay lain di dalam apartemennya memakai ponselnya?

Tidak jelas dalam berita, apa tujuan dia melakukan perkosaan kepada laki-laki yang dibuatnya tidak sadar dulu itu. Dalam metode penelitian, cara itu tidak etis, karena mencelakakan yang “diteliti”. Setidaknya subyek harus menandatangani formulir kesediaan berdasarkan informasi (informed consent). Biasanya juga proposal dan instrumen penelitian disaring oleh komisi etik dengan ketat. Ini yang masih belum merata di Indonesia, kecuali di lingkungan Kementerian Kesehatan.

Media massa Inggris, sebagaimana juga pengadilan Inggris, membingkai kasus ini sebagai pemerkosaan terbesar kaum pria dalam sejarah Inggris. Apakah Anda sependapat bahwa interaksi Reinhard dengan 48 pria itu sepenuhnya pemerkosaan?

Menurut saya, jelas ini perkosaan.

Menurut pendapat Anda, apakah para pria yang masuk ke apartemen Reinhard sudah tahu sebelumnya bahwa Reinhard adalah seorang gay?

Saya tidak mengikuti sampai detail di mana saja RS menemui calon korbannya.

Bagaimana sebenarnya interaksi para gay di dalam sebuah klub. Apakah mereka akan mudah percaya dengan gay lain yang baru dikenalnya dan mudah untuk diajak ke apartemen?

Ya, tergantung naluri dan sifat masing-masing pengunjung klub. Ada yang langsung mau diajak pulang. Ada yang mengajak kencan dulu besoknya. Bahkan ada klub yang menyediakan ruangan untuk langsung berhubungan seks. Sebagian besar perkenalan di klub gay berakhir dengan hubungan seks yang menyenangkan dan nikmat, bahkan ada yang kemudian menjadi pacar atau suami. Jangan lupa juga bahwa hal serupa terjadi juga pada relasi heteroseksual. Bahkan tidak usah di klub.

Kabarnya Reinhard juga korban dari masa lalunya, yaitu pernah mengalami pelecehan seksual. Apakah ini berpengaruh pada diri Reinhard sekarang?

Itu teori pseudo-psikologi yang banyak beredar, tapi tidak selalu benar. Ada orang yang diperkosa waktu kecil, tapi tidak menjadi pemerkosa di masa dewasa.

Dede Oetomo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *