Kecelakaan Bus Sriwijaya Kondisi Kejiwaan Para Sopir Perlu Dievaluasi

Kecelakaan Bus Sriwijaya Kondisi Kejiwaan Para Sopir Perlu Dievaluasi

Kabar terakhir (Rabu, 25 Desember jam 12.55 WIB dari laman NTMC Polri) kecelakaan bus umum Sriwijaya yang terjun ke dalam sungai di kawasan Pagaralam, Sumatra Selatan, kembali ditemukan satu penumpang dalam keadaan meninggal dunia.

“Sampai saat ini 45 orang sudah ditemukan, 32 penumpang meninggal dunia, terdiri dari laki-laki 16 orang dan perempuan 12 orang. Sedangkan korban belum terindentifikasi 4 orang. Adapun yang selamat 13 penumpang,” ujar Dayu Willy, Humas Basarnas kantor SAR Palembang.

Bus tersebut melakukan perjalanan dengan jumlah penumpang awal sekitar 30 orang, namun dalam perjalanan bertambah jadi 50 orang.

Kecelakaan terjadi Senin malam (23 Desember) sekitar jam 23.00 WIB. Menurut penuturan korban yang selamat, bus sempat terperosok ke sebuah parit di sisi jalan, namun kemudian berhasil ditarik oleh kendaraan lain dan kembali ke jalan. Setelah itu si sopir justru membawa bus Sriwijaya itu dengan cara yang lebih ngebut. Alhasil bus kehilangan kendali di sebuah tikungan tajam, menerobos dinding pembatas jalan, dan terjun ke sungai.

Berdasarkan penuturan korban selamat tersebut, tampak sopir (ikut tewas) membawa bus tidak dengan cara aman, bahkan ngebut. Mengapa di medan yang berliku dan kondisi gelap, si sopir justru ngebut? Mengapa tidak ada pikiran untuk menjaga keselamatan penumpang dan dirinya sendiri?

Menurut pendapat yang dihimpun Redaksi dari berbagai sumber, baik itu instruktur safety driving maupun para jurnalis otomotif, salah satu masalah terbesar perihal keselamatan di jalan adalah mentalitas pengemudi. Mereka sudah merasa puas hanya dengan mampu menjalankan kendaraan, tanpa berpikir lebih lanjut tentang keselamatan diri sendiri maupun orang lain.

Di dalam proses mendapatkan SIM pun tidak ada seleksi berdasarkan kondisi kejiwaan atau mental. SIM bisa didapatkan sejauh lulus ujian teknis mengemudi. Bahkan lebih mengkhawatirkan lagi karena banyak orang bisa mendapatkan SIM dengan cara “nembak” alias tanpa ujian yang lengkap.

Bagaimana agar mentalitas ‘mengemudi selamat’ tertanam di benak seluruh pengemudi? Dari berbagai pendapat yang dihimpun, sudah selayaknya pendidikan safety driving dan juga safety riding (roda dua) masuk ke dalam kurikulum sekolah sejak dini.

Selain itu, ujian untuk memperoleh SIM juga seyogyanya menyertakan penilaian kejiwaan. Sedangkan terhadap para pengemudi angkutan umum yang sekarang beroperasi perlu dilakukan evaluasi kejiwaan atau mentalitas mengemudinya.

(Foto: ntmc Polri)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *