Ini 10 Negara Terkaya di Dunia Tahun 2030 Versi Standard Chartered, Ada Indonesia?

Ini 10 Negara Terkaya di Dunia Tahun 2030 Versi Standard Chartered, Ada Indonesia?

Sekitar 11 tahun ke depan akan terjadi sejumlah kejutan di tataran global. Salah satu sebabnya adalah berkurangnya jumlah penduduk produktif di berbagai negara yang sekarang dianggap sebagai ‘negara kaya’. Sementara itu, di sejumlah negara berkembang justru terjadi peningkatan produktivitas karena tumbuh pesatnya jumlah penduduk produktif.

Bank Standard Chartered, sebagaimana dirilis web LoveMoney, dengan tim ekonominya membuat prediksi 10 negara terkaya di dunia pada tahun 2030. Parameter yang digunakan adalah Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) dengan purchasing power parity (PPP) atau kekuatan daya beli mata uang di dalam percaturan internasional.

Prediksi Standard Chartered tersebut bisa mengejutkan, sebab sejumlah negara yang dianggap negara berkembang akan menjadi negara kaya pada 2030. Apakah Indonesia termasuk di situ? Atau tetap “miskin” sebagaimana anggapan sebagian rakyatnya sendiri? Berikut ini uraiannya.

10: Jerman (saat ini ke-5)
Jerman memiliki ekonomi terbesar kelima di dunia pada 2019 dengan PDB ($ 4,5 triliun), menurut Dana Moneter Internasional (IMF). Negara “mesin utama” ekonomi Eropa ini akan jatuh peringkatnya selama beberapa tahun mendatang.

Pada tahun 2030, Standard Chartered memprediksi Jerman akan turun ke posisi ke-10 dengan PDB (PPP) sebesar $ 6,9 triliun, sedangkan Inggris dan Prancis, yang saat ini masing-masing berada di tempat delapan dan sembilan, diperkirakan akan keluar dari 10 besar. Bahkan, sumbangsih Uni Eropa untuk ekonomi global bisa turun menjadi 12%, dibanding sekitar 16% pada 2019.

9: Jepang (saat ini ke-4)
Ekonomi Jepang, yang saat ini terbesar keempat di dunia dalam hal PDB (PPP) sebesar $ 5,8 triliun, tumbuh 1,3% pada kuartal kedua tahun ini. Permintaan dan investasi asing tetap stabil.

Meski begitu, perekonomian negara ini diperkirakan berkinerja relatif buruk selama 11 tahun ke depan. Penyebabnya? Populasi yang menua dan angkatan kerja yang menyusut. Sekitar 30% populasi akan berusia 65 tahun atau lebih pada tahun 2030, naik dari hanya 17% pada tahun 2000. Akibatnya, ekonomi Jepang turun menjadi yang kesembilan di dunia pada tahun 2030, melorot dari posisi nomor 4, dengan PDB $ 7,2 triliun.

8: Rusia (saat ini ke-6)
GDP Rusia (PPP) mencapai $ 4,4 triliun pada tahun 2019. Oleh karena itu, ekonomi negara itu adalah yang terbesar keenam di dunia saat ini, meskipun keuangan negara tersebut telah terpukul selama beberapa tahun terakhir karena kombinasi sanksi Barat, harga komoditas yang tertekan, dan pelarian modal.

Pada tahun 2030, ekonomi Rusia akan tumbuh menjadi $ 7,9 triliun yang sebagian besar didukung oleh kenaikan harga minyak. Namun, ketika pasar negara berkembang lainnya merelaksasi keuangan mereka, terutama sesama anggota yang disebut BRIC (Brasil, Rusia, India, dan China) dan ekonomi CIVET (Kolombia, Indonesia, Vietnam, Mesir, Turki, dan Afrika Selatan), Rusia diperkirakan jatuh dari tempat keenam menjadi kedelapan di peringkat global.

7: Mesir (saat ini ke-20)
Selama awal 2010-an Mesir terperosok dalam ketidakstabilan politik dan ekonominya benar-benar terjebak dalam kelesuan, tetapi negara itu bangkit secara spektakuler menyusul reformasi ekstensif yang dipimpin IMF. Selama tahun fiskal terakhir, pertumbuhan naik menjadi 5,6%, level tertinggi sejak 2010, dan investasi asing di negara ini secara positif booming. Saat ini Mesir memiliki PDB (PPP) sebesar $ 1,4 triliun.

Diprediksi ekonomi Mesir akan tumbuh sebesar $ 6,8 triliun hingga $ 8,2 triliun pada tahun 2030, didukung oleh investasi asing yang disebutkan di atas dan populasi yang akan meningkat sebesar 30%. Negara, yang memiliki segala macam rencana menarik yang sedang berlangsung termasuk ibu kota baru yang berkilau, siap untuk melompat dari ekonomi terbesar ke-19 menjadi ketujuh secara global.

6: Brasil (saat ini 8)
Ekonomi utama Amerika Latin ini pernah berkinerja buruk selama beberapa tahun. Meski demikian, pertumbuhan yang mengesankan selama tahun 2000-an dan awal 2010-an telah menempatkan Brasil di 10 besar ekonomi terpenting di dunia. PDB-nya (PPP) adalah $ 3,5 triliun, menempatkan negara ini di posisi ke-8.

Terlepas dari masalah keuangan Brasil baru-baru ini, masa depan ekonominya terlihat cerah. Ketika pertumbuhan meningkat dan tenaga kerja meluas, Standard Chartered memprediksi ekonomi Brasil mencapai $ 8,6 triliun pada tahun 2030, yang akan menjadikannya terbesar keenam di dunia. Populasi Brasil diperkirakan akan mencapai 225 juta pada tahun 2030, naik dari saat ini (211 juta) alias meningkat 6,6%.

5: Turki (saat ini ke-13)
Seperti halnya mitranya di CIVETS, Mesir, ekonomi Turki mengalami rebound yang mengesankan setelah periode penurunan yang agak lama. Pada saat ini, PDB Turki (PPP) mencapai $ 2,3 triliun. Ini menempatkannya di posisi 13 secara global saat ini.

Turki diprediksi akan meninggalkan Mesir pada tahun 2030, dengan ekonomi yang melonjak berkat demografi yang menguntungkan dan faktor-faktor lain, termasuk peningkatan investasi asing. Semua ini berarti bahwa pada tahun 2030 Turki akan memukau dengan ekonomi terbesar kelima di dunia berdasarkan PDB (PPP) sebesar $ 9,1 triliun.

4: Indonesia (saat ini ke-7)
Ekonomi Indonesia, yang merupakan negara terbesar di Asia Tenggara, diperkirakan akan tumbuh sebesar 5,2% pada 2019, dan pada 2020 naik menjadi 5,3% karena permintaan domestik yang tetap kuat. Pada saat ini, ekonomi Indonesia adalah yang terbesar ketujuh di dunia dalam hal PDB (PPP) dengan nilai $ 3,7 triliun.

Indonesia diprediksi akan terus tumbuh hingga 2030 dan ekonomi Indonesia diperkirakan menjadi yang terbesar keempat secara global dengan PDB (PPP) sebesar $ 10,1 triliun (£ 8,2 triliun). Seperti halnya kisah sukses pasar negara berkembang lainnya di 10 besar, Indonesia memiliki populasi muda dan tenaga kerja yang membengkak. Standard Chartered memprediksi kesuksesan Indonesia bisa terjadi bila kondisi sosial politik Indonesia selalu stabil, dan tanpa gejolak besar.

3: Amerika Serikat (saat ini ke-2)
Ekonomi AS pada 2019 berdasarkan PDB (PPP) mencapai $ 21,3 triliun, dan menempati urutan ke-2 di dunia. Menurut IMF, ekonomi AS akan tumbuh sebesar 2,6% tahun ini, tetapi pertumbuhan diproyeksi akan turun menjadi 1,9% pada tahun 2020 ketika langkah-langkah stimulus fiskal pemerintahan Trump berkurang.

Terlepas dari upaya Trump untuk mempertahankan posisi dominan Amerika dalam ekonomi global, AS akan kehilangan posisi utamanya pada tahun 2030 sebagai negara terkaya di dunia berdasarkan pada PDB dengan nilai tukar, dan akan disusul oleh negara lain, jika perkiraan Standard Chartered benar. PDB Amerika pada tahun 2030 diperkirakan mencapai $ 31 triliun.

2: India (saat ini ke-3)
Ekonomi India siap untuk ekspansi sebesar 7% tahun ini dengan PDB (PPP) sebesar $ 11,5 triliun, dan diperkirakan akan meningkat sebesar 7,2% pada tahun 2020. Faktanya, India diprediksi menjadi ekonomi dengan pertumbuhan tercepat di dunia selama tahun 2020-an. Populasi pekerja yang meningkat, dikombinasikan dengan reformasi ekonomi dan peningkatan investasi, kemungkinan akan bekerja sangat baik untuk keuangan India.

Memang, saat ini India berada di jalur untuk menjadi negara adikuasa ekonomi sejati, nomor dua setelah China. Pada 2030, PDB negara itu (PPP) akan mencapai $ 46,3 triliun, sebuah angka yang mengejutkan. Dibandingkan dengan angka tahun ini, itu meningkat 303%.

1: China (saat ini 1)
Tiongkok melampaui AS pada tahun 2013 sebagai ekonomi nomor 1 di dunia berdasarkan PDB (PPP). Tahun ini, angkanya mencapai $ 27,3 triliun. Meskipun IMF telah memangkas prospek pertumbuhan China, karena meningkatnya perang dagang dengan Amerika dan turunnya permintaan domestik, pertumbuhan masih diperkirakan akan naik menjadi 6% pada 2019 dan 2020.

Pada tahun 2030, China kemungkinan akan memperkuat posisinya sebagai ekonomi terbesar di dunia. Dan jika para ahli di Standard Chartered benar, China akan memperpanjang keunggulannya secara signifikan atas Amerika Serikat dengan GDP (PPP) sebesar $ 64,2 triliun.

Foto: SCMP

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *