Film Semes7a Ketika Nicholas Saputra dan Rekannya Bicara Bumi

Film Semes7a Ketika Nicholas Saputra dan Rekannya Bicara Bumi

Setelah beberapa waktu menunggu, akhirnya kami bisa menonton SEMES7A, film yang diproduseri Nicholas Saputra dan Mandy Marahimin. Layar perak dokumenter berdurasi kurang lebih 90 menit ini disutradarai Chairun Nissa, dan masuk nominasi Piala Citra untuk film dokumenter panjang terbaik.

Memasarkan film dokumenter untuk komersial tentu bukan hal mudah. Terbukti, di daerah kami (Bogor), hanya satu sinema yang menayangkan film ini. Jumlah penonton pun hanya 11 orang saja, termasuk kami (bertiga).

Tapi, menebarkan kebaikan seyogyanya memang dipisahkan dengan perkara mencari keuntungan finansial (seperti perkataan Iskandar Waworuntu, salah satu tokoh dalam film ini).

SEMES7A, menggambarkan tujuh tokoh dari tujuh provinsi dengan latar belakang budaya dan agama berbeda. Tetapi, mereka memiliki satu tujuan yang sama: menjaga keseimbangan alam, untuk memperlambat proses kerusakan Bumi ini. Uniknya, upaya menjaga keseimbangan ini dilakukan dalam kearifan adat istiadat dan agama yang mereka anut. Artinya, sebenarnya dalam adat-istiadat dan agama, menjaga keseimbangan alam merupakan hal penting untuk dilakukan.

Berikut ini tokoh-tokoh dan kiprahnya dalam aktivitas menjaga keseimbangan alam.

1. Tjokorda Raka Kerthyasa (tokoh Budaya di Ubud, Bali)

Momentum Hari Raya Nyepi direfleksikan sebagai salah satu tindakan untuk menyeimbangkan alam ini. Sebelum Hari Raya Nyepi, masyarakat Bali melakukan bersih-bersih, baik individu maupun lingkungan sekitar. Di Hari Raya Nyepi, semua aktivitas dihentikan, termasuk penggunaan listrik, transportasi, juga mesin-mesin industri. Meski “hanya” sehari, Hari Raya Nyepi ternyata memberikan efek luar biasa dalam pengurangan emisi kendaraan dan rumah tangga harian di Bali.

2. Agustinus Pius Inam (Kepala Dusun di Sungai Utik, Kalimantan Barat)

Di Sungai Utik, masyarakat meyakini bahwa hutan adalah peninggalan turun-temurun yang harus dijaga, karena merupakan sumber pangan, lebih luas lagi: sumber kehidupan, bagi orang-orang yang tinggal di situ. Hutan diibaratkan sebagai super market, karena masyarakat dapat mengambil apa pun untuk keperluan sehari-hari. Ada tumbuhan dan hewan (selama bukan hewan yang dilindungi) untuk bahan pangan. Ada pula kayu dan bambu untuk keperluan pembangunan tempat tinggal, misalnya. Disepakati bahwa penebangan kayu untuk membangun rumah dan sebagainya hanya boleh tiga pohon dalam setahun. Agustinus Pius Inam bersama tetua adat, mengajak warganya untuk selalu menjaga hutan dan hanya mengambil seperlunya untuk keseharian mereka.

3. Almina Kacili (Ketua Kelompok Wanita Gereja di Kapatcol, Papua Barat)

Sebagai Ketua Kelompok Wanita Gereja, Almina Kacili mengajak kaum hawa untuk turut berpartisipasi dalam pelestarian laut dengan konsep sasi. Dalam sasi, ditentukan wilayah laut tertentu yang selama enam bulan tidak boleh diambil hasilnya. Hal ini dimaksudkan agar hewan-hewan laut diberi kesempatan untuk regenerasi alias tidak dieksploitasi terus-menerus. Menurut Almina, dengan “meliburkan” beberapa waktu, itu sama saja menabung karena ketika sasi dibuka, masyarakat akan memanen hasil yang lumayan untuk kebutuhan pangan, bahkan bermanfaat secara ekonomi.

4. Romo Marselus Hasan (Pemimpin Agama Katolik di Bea Muring, NTT)

Kawasan Bea Muring belum teraliri listrik, sehingga masyarakat terpaksa menggunakan generator sebagai sumbernya. Akan tetapi, emisi yang keluar dari generator bisa berbahaya bagi lingkungan. Bersama warga, Romo Marselus secara mandiri membangun PLTMH (Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro) dengan memanfaatkan air sungai yang ada di daerah tersebut. Dengan menggunakan energi terbarukan berupa air sungai, listrik dapat menerangi warga dalam waktu lebih lama, dan alam pun terjaga dari efek emisi yang berbahaya.

5. Muhammad Yusuf (Imam di Pameu, Aceh)

Suatu hari, ladang salah satu warga Pameu habis dirusak kawanan gajah. Masyarakat ada yang berpendapat supaya gajahnya dibunuh saja. Tetapi Muhammad Yusuf sebagai seorang imam, meyakinkan warganya bahwa gajah-gajah memasuki wilayah permukiman karena habitatnya terancam akibat banyaknya hutan yang dibabat. Dalam kesempatan ceramah di mesjid, Muhammad Yusuf mengajak warga dan mengedukasi anak-anak untuk ramah pada lingkungan. Prinsipnya: jika kita baik pada alam, alam pun akan baik pada kita. Begitu pun sebaliknya.

6. Iskandar Waworuntu (Pegiat Bumi Langit Institut, Jogjakarta)

Sejalan dengan semangatnya mendalami Islam, Iskandar Waworuntu menerapkan konsep thayyib bersama keluarganya. Ia membeli lahan di daerah Imogiri, Jogjakarta dan menjadikannya kebun untuk menanam tanaman dan memelihara hewan yang dapat dijadikan bahan pangan. Prinsipnya, kita hanya boleh memakan dan mengambil dari alam apa yang baik dan menjadi hak kita saja (tidak serakah). Iskandar Waworuntu bersama keluarganya menggunakan ilmu permakultur untuk berkebun dan berhubungan kembali dengan alam serta membuka pelatihan untuk siapa saja yang tertarik.

7. Soraya Cassandra (Pendiri Kebun Kumara, Jakarta)

Hidup di kota, bukan berarti tidak bisa berkebun. Hal ini dibuktikan oleh Soraya Cassandra. Bersama suaminya, ia mendirikan Kebun Kumara, lahan di daerah perkotaan (Situ Gintung, Tangerang Selatan) yang disulap menjadi kebun sayuran organik. Tak hanya memproduksi sayuran organik, Soraya Cassandra juga membuka workshop untuk segala usia.

(Penulis: Moelia S., kontributor)

(Foto: Antaranews)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *