Emisi CO2 Global Berkurang karena Turunnya Konsumsi Batu Bara

Emisi CO2 Global Berkurang karena Turunnya Konsumsi Batu Bara

Penurunan penggunaan batu bara di Amerika Serikat dan Eropa telah membantu memperlambat pertumbuhan emisi karbon dioksida (CO2) global tahun ini. Itu didorong ikut menurunnya permintaan batu bara di China dan India, menurut sebuah studi yang diterbitkan pada hari Rabu (4/12).

Laporan tersebut, yang dirilis di KTT iklim di Madrid, Spanyol, juga menunjukkan bahwa meningkatnya permintaan terhadap minyak dan gas menunjukkan bahwa dunia masih jauh dari pengurangan drastis emisi gas rumah kaca, demi mencegah bencana pemanasan global.

Namun demikian, penggunaan batu bara yang turun tajam di Amerika Serikat dan Eropa, membantu memperlambat proyeksi pertumbuhan emisi karbon dioksida menjadi 0,6% pada 2019, dibandingkan dengan 2,1% tahun sebelumnya.

Ikut melambatnya pertumbuhan permintaan di China, yang membakar setengah jumlah batu bara dunia, dan juga India, dikombinasikan dengan pertumbuhan ekonomi mereka yang secara keseluruhan lebih lemah, juga membantu memperlambat kenaikan emisi, kata laporan itu, yang dikenal sebagai Anggaran Karbon Global 2019.

“Pertumbuhan emisi karbon dioksida yang melemah pada tahun 2019 disebabkan oleh penurunan tak terduga dalam penggunaan batu bara secara global. Tetapi penurunan ini tidak cukup untuk mengatasi pertumbuhan yang kuat dalam konsumsi gas dan minyak bumi,” kata Glen Peters, direktur CICERO, lembaga penelitian iklim yang berbasis di Oslo, Norwegia.

Peters menambahkan bahwa emisi CO2 global dari bahan bakar fosil cenderung 4% lebih tinggi pada 2019 dibandingkan pada 2015, tahun ketika Perjanjian Paris untuk menangani perubahan iklim diadopsi.

Diterbitkan oleh kelompok penelitian Proyek Karbon Global di beberapa jurnal akademis, termasuk Nature Climate Change, laporan tersebut merupakan perkiraan setahun penuh pertama dari peningkatan emisi karbon dioksida pada 2019.

Sementara itu, pertumbuhan energi terbarukan dan kendaraan listrik telah membantu sedikit memperlambat pertumbuhan emisi bahan bakar fosil. Namun penggunaan bahan bakar fosil harus turun dengan cepat jika dunia ingin memenuhi tujuan iklim dalam perjanjian Paris.

Studi CICERO juga memperkirakan bahwa emisi dari kebakaran hutan dan pemanfaatan lahan lainnya meningkat pada 2019 menjadi 6 miliar ton CO2, sekitar 0,8 miliar ton lebih tinggi dibanding tahun sebelumnya. Sebagian didorong oleh kebakaran di Indonesia dan Amazon.

Joeri Rogelj, seorang dosen perubahan iklim di Grantham Institute, Imperial College London, mengecilkan signifikansi jangka panjang fluktuasi tahunan dalam pertumbuhan emisi. “Perlambatan kecil tahun ini benar-benar tidak terlalu antusias,” kata Rogelj. “Jika tidak ada perubahan struktural yang mendasari perlambatan ini, maka emisi global secara bertahap akan terus meningkat secara rata-rata.”

Blarr!

(Sumber dan foto: Reuters)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *