Benny Moerdani Gebrak Meja Saat Meeting dengan Pejabat Asing

Benny Moerdani Gebrak Meja Saat Meeting dengan Pejabat Asing

Presiden Soeharto memerintahkan langsung Benny Moerdani untuk menjadi tim pendahuluan yang memastikan keamanan presiden dalam rencana kunjungan kenegaraan ke Belanda pada Agustus 1970. Waktu itu pangkat Benny masih Brigjen.

Dengan latar belakang intelijen yang matang, Benny memeriksa berbagai potensi ancaman di sepanjang rute yang akan dilalui presiden Soeharto selama di Belanda. Benny melakukan pengamatan seorang diri, dan hanya ditemani ketua perhimpunan pelajar Indonesia di Belanda, R. Haryoseputro, yang seorang sipil. Benny melakukannya sepekan sebelum kunjungan Soeharto.

Dikisahkan di dalam buku Benny Moerdani, yang Belum Terungkap terbitan Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) tahun 2015, di sebuah belokan Benny berhenti dan bertanya, “Di belokan ini sampai kecepatan berapa kamu bisa memacu kendaraanmu?” Haryo menjawab, “Paling cepat 50 km per jam.” Benny berseru, “Bahaya!”

la lantas menunjuk jendela-jendela rumah di sisi-sisi jalan itu. Jika ada penembak dari sana, kemungkinan besar akan mengenai sasaran pada mobil dengan kecepatan 40-50 km per jam. “Kalau 60 km per jam mungkin masih aman,” ucap Benny.

Setelah itu, Benny meninjau lampu merah di dekat istana, yang akan dilalui rombongan. Titik itu juga dianggap tak aman.

Potensi ketidakamanan itu disampaikan Benny dalam pertemuan dengan pejabat keamanan Belanda. la bertanya apa bisa semua jendela di jalan ke arah istana dijaga dan lampu merah dibebaskan dari demonstrasi. Aparat keamanan Belanda mengatakan ‘tidak’ dengan alasan negara itu demokratis.

Jawaban itu langsung membuat Benny marah dan ia pun menggebrak meja sambil berkata keras-keras, “Kami hanya punya satu Soeharto! Apakah Anda bisa menjamin keselamatannya?!”

Benny geram, tapi ia sadar tak bisa berbuat banyak untuk mengendalikan aparat keamanan tuan rumah. Beruntung bagi Benny, di luar dugaan terjadi insiden yang membuat sikap tim pengamanan Belanda berubah 180 derajat. Keesokan harinya, pada 31 Agustus 1970, sebanyak 33 anggota RMS (gerakan separatis Republik Maluku Selatan) menyerbu Wisma Duta, rumah Duta Besar RI untuk Belanda, di Kerkeboslaan 2, Wassenaar, Den Haag. Mereka datang dengan senapan serbu dan parang. Dubes RI Letjen (purn) Taswin Natadiningrat lolos dari penyerbuan.

Insiden ini membuat pihak Belanda meningkatkan risiko keamanan bagi
kunjungan Soeharto. Sehari sebelum kunjungan Soeharto, jalan-jalan dijaga panser. Bahkan saat tiba di landasan militer Ijpenburg, Belanda, presiden tidak dibawa ke istana melalui jalan darat, melainkan menggunakan helikopter.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *