Bagaimana Cara Menilai dan Menikmati Pertunjukan Teater?

Bagaimana Cara Menilai dan Menikmati Pertunjukan Teater?

Bila Anda merasa segar jiwa dan raga sekeluar dari ruang pertunjukan teater, maka Anda telah mendapat katarsis (pencerahan kembali). Sebuah seni pertunjukan –baik itu berupa teater, pentas tari, maupun konser musik– yang direncanakan dan dikemas dengan baik biasanya memberikan katarsis.

Sebuah pertunjukan teater umumnya merupakan perpaduan seni peran, seni tari, dan seni musik sekaligus. Oleh karena itu, teater biasanya paling berpotensi untuk memberikan katarsis.

Untuk menilai kualitas sebuah pertunjukan teater, memang tidak bisa sepenuhnya lepas dari subyektivitas. Itu terkait dengan konteks cerita (apakah mirip dengan kisah hidup si penilai), figur pemain (mirip dengan seseorang yang dikenal), tata musik (sesuai selera musik si penilai), aspek politis (cerita sesuai kecenderungan politik si penilai), dan lain sebagainya.

Namun ada sejumlah hal obyektif yang bisa diamati di dalam sebuah pertunjukan teater. Katakanlah artikulasi vokal para pemain (jelas atau tidak), jangkauan vokal (terdengar jelas sampai baris penonton belakang atau tidak), ekspresi wajah yang distinctive (khas), dan bahasa tubuh yang teatrikal (tidak seperti gerakan orang pada umumnya).

Demikian pula dengan gerak tari para pemain teater harus benar-benar terlihat dramatis (gerak tari yang menambah bobot makna cerita). Adapun kemampuan bernyanyi para pemain teater pun bukan untuk menjadi idol di atas panggung, melainkan nyanyian yang dibawakannya mampu menambah bobot lakon serta menyentuh hati para penontonnya.

Hal yang lain seperti permainan musik yang selalu tepat waktu (tanpa delay atau terlalu cepat sebelum dan setelah dialog) juga tak kalah pentingnya. Hal ini sepenting permainan cahaya lampu yang semestinya mengalir tanpa disadari oleh penonton, namun mendukung dramatisasi keseluruhan lakon.

Dan terakhir adalah tata panggung serta tata busana. Dua hal ini selayaknya menjadi unsur penting yang membawa imajinasi penonton untuk lebih cepat menghayati cerita, bahkan sebelum dialog menghantarkannya.

Blarr!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *