Alpine, Tuner Keren yang Sempat Berjaya Lalu Tenggelam dan Bangkit Lagi

Alpine, Tuner Keren yang Sempat Berjaya Lalu Tenggelam dan Bangkit Lagi

Kebanyakan pabrikan mobil besar dunia punya divisi atau setidaknya tim yang bertugas menghasilkan mobil dengan performa terbaik, melebihi mayoritas produk yang ada.

Dalam beberapa kasus, performance
division seperti itu justru sama populernya dengan perusahaan induknya. Misalnya, Mercedes-Benz punya AMG, BMW punya M-Division, dan Nissan punya Nismo.

Namun ada satu lagi tuner legendaris yang namanya tenggelam selama puluhan tahun. Dialah Alpine yang sempat selama beberapa dekade menjadi penguasa sejumlah kejuaraan balap di Eropa.

Seperti halnya AMG, Alpine berawal dari tuner independen yang kemudian diambil alih oleh klien sejatinya. Alpine telah mencetak banyak mobil berperforma tinggi yang mengambil basis dari platform mobil Renault yang sederhana.

Pada tahun 1950, Jean Redele yang berusia 24 tahun, adalah pemilik termuda dealer Renault di Prancis. Tak hanya berjualan mobil, Redele juga gemar balapan. Ia rutin tampil di beberapa kejuaran balap di Eropa membesut Renault 40 yang telah dimodifikasi.

Tak berhenti sampai di situ, Redele memutuskan untuk membangun mobil balap berbobot ringan yang mengambil basis dari Renault 4CV. Hasilnya, pada tahun 1955, Redele mempersembahkan tiga unit mobil balap bernama A106 ke kantor pusat Renault dan langsung mendapat dukungan dari Renault.

Alpine A108

Akhir tahun 1960, hadir versi terbaru dari mobil tersebut yang diberi nama A108. Mobil yang berdimensi lebih panjang dan lebih bertenaga itu tak lagi mengambil basis dari Renault 4CV, melainkan Renault Dauphine. Renault A108 tampil lebih indah dengan profil fastback di bagian belakangnya.

Renault Alpine A108 berhasil melebihi penjualan Porsche 911 selama lebih dari 6 tahun. Sayangnya, meski tampil menawan dan performanya menjanjikan, namun kondisi finansial Alpine justru memburuk. Sampai akhirnya Willys, perusahaan Amerika Serikat yang pertama kali menciptakan Jeep, datang menjadi penyelamat.

Menariknya, Willys sendiri sudah tak lagi bermarkas di Amerika Serikat dan membangun pabrik di Brasil. Willys sangat suka dengan A108 dan menjual mobil ini dengan nama Willys Interlagos pada tahun 1962–1966. Mengambil nama dari nama sirkuit internasional terkemuka di Brasil, mobil ini sukses meningkatkan citra Willys secara global, sekaligus menghasilkan banyak uang.

Renault R8

Ibarat gayung bersambut, secara kebetulan Renault merilis sedan terbaru, yaitu Renault R8. Renault R8 adalah sedan modern dengan posisi mesin di belakang, sudah berteknologi air-cooled, dan dilengkapi rem cakram di keempat rodanya. Dan yang paling penting, mesinnya sudah mendapat sentuhan tangan dingin Amedee Gordini, seorang legenda balap Italia yang menetap di Prancis.

Intinya, R8 adalah mobil yang cocok dijadikan bahan pengembangan mobil sport Alpine. Mobil inilah yang ditetapkan Alpine untuk menjadi penerus A108 yaitu, Alpine A110.

Sejak saat itulah nasib Alpine berubah secara drastis. Alpine A110 langsung menjadi mobil tersukses mereka di arena balap. Panjang, lebar, dan kencang, mobil ini menghasilkan pengendalian yang baik. Tak seperti mobil berpenggerak roda belakang lainnya yang terlalu “liar”, Alpine A110 memiliki grip yang dapat membuat mobil begitu melekat dengan aspal, baik di saat kering maupun basah.

Akan tetapi, tak seperti Porsche, Alpine A110 bukanlah mobil yang cocok untuk digunakan di jalan umum sehari-hari.
Interiornya sempit, dan sama sekali tidak senyap. Namun, tetap saja, bagi Alpine, mobil ini adalah senjata milik mereka yang paling ampuh untuk digunakan di lintasan balap. Hasilnya, Renault Alpine A110 sukses menjuarai sejumlah balapan di berbagai belahan dunia.

Pada tahun 1967, Renault meminta Alpine untuk bertanggung jawab terhadap seluruh kegiatan divisi motorsport Renault. Sejak saat itu sampai tahun 1974, hasil karya Alpine mulai diproduksi di beberapa negara sebagai mobil balap. Mobil ini diproduksi di Meksiko sebagai Diesel Nacional Dinalpin, di Bulgaria sebagai Bulgarialpine, dan di Spanyol oleh FASA.

Ini semakin menguatkan status Apline secara internasional di lintasan balap, sekaligus menambah pundi-pundi Alpine. Meningkatnya pendapatan sejalan dengan langkah Alpine yang segera menyempurnakan Alpine A110 dan menyiapkan mobil untuk turun di World Rally Championship (WRC).

Sampai akhirnya pada tahun 1970, Alpine memperkenalkan Alpine A110 bermesin 1,5 liter yang menghasilkan tenaga 138 hp atau hampir dua kali lipat dari tenaga yang dihasilkan oleh generasi sebelumnya.

Hasilnya, pada tahun 1970-1973, Alpine terjun di WRC dengan meraih secara berturut-turut gelar juara dunia
konstruktor. Tahun 1972 di Criterium des Cevennes, Alpine A110 sukses menjadi mobil pertama bermesin turbo yang memenangi kejuaraan rally internasional.

Puncaknya, tahun 1973 Renault secara resmi mengakuisisi Alpine dan memenangi gelar juara dunia World Rally Championship tahun 1973. Sayangnya, platform Renault R8
yang menjadi basis pengembangan Alpine A110 sudah mulai habis termakan usia. Dan saat Lancia Stratos datang di tahun 1974, Alpine mulai kurang menunjukkan taringnya, sampai akhir hayat Alpine A110 di tahun 1977.

Alpine A310

Meski Alpine A110 dihentikan produksinya di tahun 1977, namun kiprah Alpine tidak berakhir sampai di situ. Alpine A442B berhasil menjuarai balap ketahanan 24 jam Le Mans. Alpine pun melahirkan penerus dari A110, yaitu Alpine A310 yang lebih modern, di tahun 1980-an. Alpine A310 kemudian digantikan oleh Alpine A610 yang diluncurkan pada tahun 1991, sekaligus menjadi Alpine terakhir.

Pada tahun 1995, Renault, perusahaan induk Alpine, menghapus nama Alpine dari kamus mereka. Divisi yang bermarkas di Dieppe, Prancis, ini berubah nama menjadi Renault Sport Division dan memproduksi versi sport dari mobil-mobil Renault, seperti Megane Renault Sport dan Clio Renault Sport.

Pada tahun 2007, Renault sempat berucap akan menghidupkan kembali brand Alpine. Renault yang telah beraliansi dengan Nissan mengumumkan bahwa mobil pertama Alpine reborn tersebut nantinya akan dibangun di atas platform Nissan GT-R yang sangat sukses.

Sayangnya, krisis ekonomi global tahun 2008-2009 membuat Renault mengurungkan niatnya dan membekukan proyek tersebut.

Menariknya, pada tahun 2012, tiba-tiba muncul gambar mobil konsep bernama Alpine A110-50 yang bocor sebelum kemunculan perdananya di Monaco.

Bulan November 2012, Caterham Cars
menandatangani kesepakatan kepemilikkan 50% saham Renault terhadap Societe des Automobiles Alpine (SAA) dan mengubah namanya menjadi Societe des Automobiles Alpine Caterham (SAAC).

Salah satu butir dari kesepakatan itu menerangkan bahwa Caterham mulai saat itu menguasai 50% aset dari pabrik Renault di Dieppe. Tujuannya agar Caterham dapat menciptakan mobil sport yang terjangkau dan mulai memasarkannya pada tahun 2016. Namun, ternyata Renault mengambil alih kembali aset mereka dari Caterham di tahun 2014 lalu.

Di awal 2016, sebagai bentuk penghormatan terhadap mobil legendaris Alpine A110, Renault menampilkan mobil konsep bernama Alpine Vision Concept yang menggusung visi dan jiwa dari Alpine A110.

Meski masih dalam bentuk konsep, namun wujud Alpine Vision Concept bisa dibilang sebagai interpretasi modern dari desain Alpine A110.

Mobil ini disiapkan untuk menjadi lawan bagi Alfa Romeo 4C, BMW M2, Audi TT RS, Lotus Elise, dan Porsche Cayman. Renault menyebut mobil ini akan dibekali mesin 4-silinder turbo dan mampu melesat 0-100 kpj dalam 4,5 detik.

Benar saja, Alpine A110 versi terbaru hadir mulai awal tahun 2019 dengan banderol sekitar 46.000 poundsterling bila dibeli di pasar Inggris.

Mobil ini terlihat sangat cantik desainnya. Hampir 30 tahun tidak membuat mobil, Alpine rupanya belum kehilangan sentuhan hebatnya. Blarr!

Alpine A110 model klasik, silakan bandingkan kecantikannya dengan model 2019 di bawah ini
Alpine A110 model 2019 sangat cantik dalam konteks kekinian
Alpine A110 model 2019 sangat cantik dalam konteks kekinian
Alpine A110 model 2019 tak kalah cantik dibanding model klasiknya

(Artikel ini dicukil dari artikel serupa di majalah Ascomaxx dengan penulis Aldi Prihaditama)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *